Urgensi Internalisasi Pendidikan Karakter di Sekolah


Banyak orang belajar disekolah tapi sedikit yang dapat menjiwai ilmu disekolah, Sebagai contoh Orang belajar agama tapi tidak religius, Orang belajar bahasa, tapi kalo berbicara asal ngomong.  Orang belajar geografi tapi kuper dan tidak peduli pada  lingkungan sekitar. Hal itu menggambarkan, pendidikan tidak menjadi karakter bagi pembelajarnya sendiri. Orang belajar ilmu sosial, tetapi bersikap hewani. Hal itu menunjukkan gagalnya internalisasi nilai pendidikan, dan gagalnya pendidikan karakter.

Istilah pendidikan karakter mulai populer di Indonesia Sejak tahun 2010. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan mengharapkan mulai dari pendidikan dasar, menengah sampai perguruan tinggi mengembangkan model pendidikan karakter.  Lantas,  apa  yang dimaksud dengan pendidikan karakter ?
Dalam tulisaan ini, kita akan melihat dari sumber nilai karakter.  Maka, dengan berlandaskan pada pemikiran ini, kita akan menemkan ada dua jenis makna pendidikan karakter.

Pertama, karakter  yang bersumber dari luar (eksternal), yaitu menanamkan nilai (karakter) kepada peserta didik.  Bila dalam sebuah satuan pendidikan atau setiap mata pelajaran berupaya untuk  penanaman nilai karakter tertentu kepada peserta didik tersebut, disebut sebagai sebuah proses pendidikan karakter dalam dimensi eksternal. Misalnya, menanamkan nilai nasionalisme melalui pendidikan geografi, atau menanamkan nilai nasionalisme melalui pelajaran agama!

Kedua, ada pendidikan karakter yang bersumber dari  internal. Asumsi utamanya, setiap mata pelajaran atau setiap materi memiliki karakter-diri-keilmuannya. Misalnya, matematika berkarakter kritis. Karakter sejarah adalah sistematis dan logis.  Karakter bahasa adalah komunikatif. Nilai karakter itu, tidak datang dari luar, dan tidak dipaksakan kepada peserta didik. Karakter yang sifatnya internal ini, akan muncul dengan sendiri, pada saat seseorang mampu menghayati hakikat dari disiplin ilmunya sendiri.
Seorang guru geografi  memberikan latihan pengamatan kepada siswa terhadap lingkungan kumuh. Tanpa harus diajarkan mengenai arti peduli, simpati dan empati. Setiap anak diajak langsung berrefleksi mengenai kondisi masyarakat. Hal seperti ini pun, menggambarkan karakter nilai muncul dari proses pembelajaran, karakter keilmuan, dan materi ajar. tanpa harus mengajarkan arti ‘simpati, toleransi atau peduli’ secara khusus.
Oleh karena itu, seorang guru geografi memiliki kewajiban untuk menjelaskan materi ajar geografi kepada peserta didik secara sistematik dan strukturalis.   Hemat saya,  berdasarkan bacaan yang sudah pernah ketemu, proses pembelajaran itu, mengarah pada empat struktur bahan ajar.
Pertama, aspek kognisi, yaitu sekedar tahu. Siswa tahu materi ajar geografi. Sifatnya hapalan. Kedua, aspek pemahaman, yaitu siswa mampu menunjukkan penalaran mengenai materi geografi. Kemampuan analisi dan kritis menjadi ciri dari aspek pemahaman. Ketiga, aspek psikomotor, yaitu siswa memiliki keterampilan praktis pelajaran geografi. Terakhir, yaitu aspek kepribadian, yakni mampu menunjukkan karakter diri sebagai seorang geograf.

Analisis kita. Banyak siswa yang belajar ekonomi, tetapi tetap saja bersifat boros. Hal itu menunjukkan bahwa siswa tersebut, belum memiliki karakter keilmuan  ekonominya. Ada siswa yang belajar bahasa, tetapi belum bisa berkomunikasi. Ada siswa yang belajar sosiologi tetapi belum mampu bergaul secara optimal. ada yang belajar agama, namun belum mampu menunjukkan sikap beragama yang optimal. semua itu menunjukkan bahwa karakter ilmu yang dipelajarinya, belum tampak dalam diri seorang siswa.

Pemikiran ini mengantarkan kita pada satu rumusan bahwa pendidikan karakter itu pada dasarnya adalah membangun pribadi pembelajar sesuai dengan nilai yang terkandung dalam mata pelajaran dimaksud. Nilai-nilai karakter ini, tidak dipaksakan dari luar, dan bukan berasal dari luar. Rumusan karakter sebagaimana yang dilakukan dalam proses pembelajaran itu, bukan nilai karakter titipan dari luar, tetapi adalah nilai karakter yang menjadi hakikat berfikir disiplin ilmu tersendiri.

Terbayang, muncul alumni berkarakter geograf, dari sebuah jurusan pendidikan geografi, atau jurusan geografi. Muncul alumni komunikatif dari Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi bukan sebaliknya. Sudah lulus dan mendapatkan ijazah, tetapi kompetensi dan karakter keilmuannya tidak muncul. Di sini, menunjukkan lembaga dan materi ajar, tidak terinternalisasi terhadap diri seorang mahaasiswa atau pembelajar tersebut.

Subscribe to receive free email updates: