Manfaat Peta Dalam Kajian Aspek-Aspek Pertanian



Sejak peta ditemukan oleh para ahli yang melalui proses cukup lama di dalam pembuatannya kemudian selanjutnya mengalami kemajuan-kemajuan untuk kesempurnaan peta tersebut. Sehingga peta dapat dimanfaatkan oleh berbagai disiplin ilmu. Salah satu di antaranya dalam bidang ilmu pertanian, oleh para Kartograf dipetakanlah daerah lahan pertanian, terlebih di negara Indonesia yang sangat terkenal dengan masyarakat petaninya. Masyarakat petani yang menggunakan cara-cara pertanian sebagai berikut:

1. Sistem ladang (pertanian ladang berpindah)
Cara pengusahaan sistem ladang adalah hutan ditebang, dibakar, kemudian dibersihkan. Pada saat musim hujan, lahan sudah siap diolah menjadi lahan pertanian. Setelah kesuburan tanah menurun, ladang ditinggalkan dan pindah ke tempat baru yang lebih subur. Dengan makin banyaknya penduduk, sistem ladang tidak dapat dipertahankan lagi. Penebangan hutan yang terus menerus, akan mengakibatkan berkurangnya luas hutan. Akibatnya selanjutnya adalah berkurangnya kemampuan daya serap tanah terhadap air, sehingga dapat menimbulkan erosi dan hilangnya kesuburan tanah. Pertanian sistem ladang mengakibatkan banjir dan erosi. Oleh karena itu, pemerintah melarangnya.

2. Pertanian tegalan
Pertanian ini mengandalkan air hujan yang jatuh di daerah tersebut. Untuk mengolah tanah pertanian dengan sistem ini dibutuhkan pupuk yang banyak dan pengolahan yang baik. Di daerah miring harus dibuat petak-petak bertingkat (terasiring) agar tidak terjadi erosi dan tanah longsor.

3. Pertanian pekarangan
Tanah pekarangan adalah lahan pertanian yang ada di sekitar rumah, biasanya ditanami buah-buahan, sayuran, tanaman obat, tanaman estetika (misalnya bunga dan tanaman hias lainnya). Jika diolah secara intensif, tanaman pekarangan mempunyai nilai ekonomi yang tinggi, sehingga dapat menopang kehidupannya atau sebagai penghasilan tambahan bagi keluarga tersebut.

4. Pertanian Perkebunan
Pertanian ini biasanya menggunakan modal yang besar, alat-alat lebih modern tenaga kerja yang banyak (digaji/sebagai tenaga kerja upahan) hasil dieksport. Adapun contoh-contoh-contoh dari pertanian perkebunan adalah teh, kopi, tembakau kelapa sawit, tebu dan lain-lain.



Subscribe to receive free email updates: